Sesuai ide yang melintas tempo hari, hari ini aku merealisasikan 'nafsuku' untuk memadukan Bolu Ketem dengan Bolu Keju.
Dan beginilah hasilnya sodara-sodara.. Paduan rasa legit dan cheesy; berimbang ngga bikin eneg.



Ada sedikit perubahan di resep Bolu Ketem-nya, penggunaan minyak goreng saya ganti dengan minyak kelapa. Benar, aromanya lebih wangi dan tradisional.. Bau desa.

Bahannya:

Bahan 1:
- 6 butir telur
- 200 gr gula pasir
- 1 sdt SP
- 1/4 sdt garam

Bahan 2:
- 175 gr tepung ketan hitam
- 100 ml susu cair
- 75 ml minyak kelapa

Bahan 3:
- 100 gr terigu
- 75 ml susu cair  
- 100 gr keju cheddar parut halus


Caranya:
- Siapkan loyang tulban diameter 23 cm, olesi dengan margarin dan taburan terigu, taburi bagian bawahnya dengan sedikit bagian keju parut, sisihkan. Siakan juga dandang kukusan.
- Kocok Bahan 1 dengan mixer speed tinggi sampai kental berjejak. Bagi adonan menjadi 2 bagian yang sama rata dengan menggunakan timbangan.
- Untuk lapisan ketan hitamnya, masukkan tepung ketan hitam yang sudha diayak ke dalam sebagian adonan, aduk rata dengan spatula. Lalu masukkan susu cair dan minyak kelapa secara bergantian, aduk rata.
- Tuang ke dalam loyang tulban yang sudah disiapkan, kukus selama 10-15 menit, angkat. Jangan lupa untuk melapis tutup dandang dengan serbet kain bersih supaya uap air tidak menetes kembali ke permukaan kue.
- Untuk lapisan kejunya, masukkan terigu ke sebagian adonan lainnya, aduk rata dengan spatula. Lalu masukkan susu cair dan keju parut bergantian, aduk rata.
- Tuang adonan keju ini di atas lapisan ketan hitam yang setengah matang tadi, lalu kukus lagi selama 25 menit sampai matang.
- Setelah matang, angkat. Diamkan sekira 5 menit sebelum dibalik ke piring saji.

Aku cukup puas dengan eksperimen ini, meskipun hasilnya masih belum sempurna. Setidaknya, aku sudah coba, dan ini enak. Rasa keju menetralisir rasa legit ketan hitam.

So, happy steaming!  
              
Lagi kangen pingin makan Lemét Pisang.
Waktu kecil, Nenekku almarhumah sering bikin yang beginian pakai pisang kepok. Dimakan anget-anget is so yummyumm!

Kebetulan juga ini hari-hari terakhir NCC-JTIW. Sebelumnya mau setor kue favoritku Pisang Rai a la Bali, tapi udah keduluan dua kali gara-gara jadwalku yang ngga memungkinkan. Hiks. Yasudahlah.

Jadi, ditengah keterbatasan waktu, sambil nyiapin bahan utk 5th birthday party keponakanku yang super lebay ituuu, mari kita berdayakan pisang raja yang ada ini. Tapi ngga ada daun pisangnya! Ya udah, pakai aja cup plastik ajalah.. :D


Bahannya:
- 10 bh pisang raja, haluskan
- 175 gr tepung terigu
- 65 ml santan instan
- 135 ml air
- 100 gr kelapa parut yang agak muda
- 75 gr gula pasir
- 1/2 sdt bubuk kayu manis
- 1/4 sdt garam

Caranya:
- Siapkan cetakan (daun pisang sih, kalau ada) dan dandang kukusan, sisihkan.
- Campur semua bahan jadi satu, aduk rata.
- Tuang adonan kedalam cetakan, kukus selama 50 menit sampai matang.
- Sajikan hangat dengan parutan kelapa.

And yes, officially I got it ;) Thank youuuuu..

 

Happy steaming!
      
 
Ini teman sejati kita yang hobi baking: TBK ~ alias Toko Bahan Kue.

Duluuu banget, waktu masih jaman SD, kalau ke Surabaya, aku sering ikut Ibu hunting baking tools dan bahan-bahan kue ke TBK. Waktu itu yang terkenal dan terlengkap adalah Arlisah Amari, toko di daerah Jl.urip Sumoharjo. Toko ini jadi andalan para Ibu pada jamannya. Apalagi kalau loyang kue-nya ada stikernya Arlisah, wwuihh..! 
Ibu pasti betah berlama-lama di toko ini. Aku dan adik-adik, menghabiskan beberapa kali putaran dalam toko sampai bosan (ups!) menunggu Ibu berbelanja di sini. Apalagi waktu itu masih belum musim toko begitu pakai AC, jadi, sumuk! Herannya, Ibu kok ya betah..
foto courtesy: www.popscreen.com
 
Ada lagi satu toko yang didatengin kalau lagi ke Surabaya, Toko Sinar Yong (d/h Sin Yong) di Jl. Kedungdoro. Tokonya keciiiiil banget, waktu itu. Tapi barangnya luar biasa banyak! Aku paling ngga betah disini. Sempit. Sepertinya Ibu juga kalau ngga kepepet ngga bakal kesini..
Sekarang sih kayaknya toko ini udah gede banget, ya?
foto courtesy: www.isurabaya.net

Oya, sebenarnya waktu SD aku tinggal di Malang. Langganan Ibu disini adalah Toko Avia di Jl. Jagung Suprapto. Kalau belanja bahan di sini, musti hati-hati, karena mereka juga menjual bahan yang mengandung babi. Toko ini adalah The Heritage of Malang. Dulu sih, fasade toko ini jaman Belanda banget, khas. Tapi sekarang sudah di"modernisir" dengan cat warna merah menyala plus logo sponsor.
foto courtesy:fajarmono.wordpress.com 

Lalu jaman aku SMP,masih di Surabaya, Ibu mulai kenal dengan Toko Delapan, di Jl. Pucang Anom Timur. Di toko ini, meskipun kecil waktu itu, aku lebih agak betah, karena sirkulasinya cukup bagus, toppernya juga lucu-lucu.. Salut dengan Tante Emy, sekarang tokonya udah guedeee..
foto courtesy: www.isurabaya.net
 
Lalu, selepas SMP, "wisata" ke TBK mulai aku lupakan. Karena aku merasa baking is so-not-me. Bahkan kuliah pun aku ambil jurusan keren, Arsitektur :D Nongkrongnya juga di stationery..
Ibu juga kalau belanja bahan paling juga via telepon, nanti tinggal minta supir ambil atau kalau dari luar kota, pakai expedisi. Sampai pada akhirnya aku tinggal di Bali, tahun 2011 lalu, wisata TBK-ku pun dimulai lagi.

UD Fenny, di Jl. Nakula, Denpasar. Sebenernya toko ini sudah aku tau sejak awal tinggal di Bali, sekitar tahun 2002. Tapi mau mampir kok ya males banget, gara-gara jalannya sempit, susah parkir.
Tapi di tahun 2011 itu aku mulai tergoda untuk masuk. Seperti de ja vu. To smell, to touch, feels like reborn. Bodo amat sama parkir susah, dibelain parkir agak jauh, ngga masalah :)) 

Ngga lama menikmati masa bulan maduku dengan UD Fenny (baca: TBK), mendadak kita hijrah ke Cibubur. Pusinglah lagi aku cari-cari TBK yang harganya mirip dengan UD Fenny. Secara di Kota Wisata ini biaya hidup hampir dua kali dari biaya hidupku di Bali.. (((sigh)))

Tanya sana-sini, eh, ketemu Toko Blossom di kompleks Vancouver. Menyusul Toko Cherry di Sentra Eropa. Lalu Toko Mira di Jl. Margonda Depok. Kemudian TBK Mom N Me yang jualan online. Terakhir Toko Vieto di Jatiasih. 
Setiap toko dengan keunggulannya masing-masing..

Bener-bener dah, kalau kelamaan ngga berwisata ke TBK, rasanya seperti ketinggalan jaman :D    

 
 

 
Sama sekali tidak terpikir bakal bikin yang namanya Bolu Ketan Item dalam waktu dekat, kalau saja ada customer yang minta.. Selain aku udah hampir ngga pernah makan ketan, dan suami juga ngga terlalu suka cake yang dikukus.

Jadi...
"Bisa, mbak Lia?"
"Bisa." ~dengan pedenya walaupun dalam hati nervous habis :D

Sebenarnya di bagian belakang kemasan sudah ada sih, contekan resepnya. Tapi aku kok ngga terlalu yakin itu bakal enak ya.. Dan tiba-tiba teringat foto Bolu Ketem Lapis Pandan-nya mbakYeyen Undayani yang aduhai ituh (hai mbak..), langsung segera ublek-ublek nyari resepnya, sedikit dimodifikasi, lalu kalkulasi dengan segera..

Baiklah, segera saja kita mulai.. ^^



Bahannya:
- 6 butir telur
- 250 gr gula pasir 
- 1/4 sdt garam
- 1 sdt SP
- 350 gr tepung ketan hitam
- 200 ml susu cair (aslinya pakai santan, tapi aku ganti karena pingin rasa yang lebih modern)
- 150 ml minyak goreng

Caranya:
- Siapkan loyang luban dia 23 cm, olesi dg margarin dan taburan terpung terigu tipis-tipis saja. Kalau ngga pakai loyang tulban, cukup dilapis dengan kertas roti lalu oled tipis dengan margarin. Sisihkan. Siapkan juga dandang kukusannya.
- Mixer telur, gula, garam, dan SP dengan speed tinggi sampai kental berjejak.
- Masukkan sedikit-demi-sedikit tepung ketan hitam yang sudah diayak, mixer dengan speed rendah sampai rata. Matikan mixer.
- Terakhir, masukkan secara bergantian susu cair dan minyak goreng ke dalam adonan, aduk lipat dengan spatula.
- Tuang adonan ke dalam loyang cetakan, kukus selama 40 menit sampai matang. Jangan lupa melapisi tutup dandang dengan kain serbet bersih supaya uap air tidak menetes ke permukaan kue.
- Setelah matang, keluarkan dari kukusan, diamkan sekira 5 menit sebelum dikeluarkan dari loyang.

Ada tips?
Buat yang suka, penggunaan minyak goreng bisa diganti dengan minyak kelapa supaya aromanya wangi. Tetapi ngga semua orang suka, karena mereka ngga terbiasa dengan aroma minyak kelapa. Beda dengan minyak sawit yang cenderung tidak beraroma.

Nah, kalau mbak Yeyen menggabungkan Bolu Ketem ini dengan Bolu Pandan, aku malah mikir kalau digabung dengan Bolu Keju pasti lebih melekoh..
Next.

Oiya, ngga lama setelah pesanan Bolu Ketem ini aku antar, smsku bunyi:
"Mba lia, kuenya enak-enak smua.. Anakku jg suka, makasi bgt yaaa mba :*"
Alhamdulillaaah, aku langsung meleleh kegirangan!







At least, happy steaming!          
  
Ditengah pencarian resep di eyang gugel, saya jadi berpikir, sebenarnya apa sih beda penggunaan fresh milk dengan buttermilk. Kedua bahan tersebut pada dasarnya ada perbedaan, sih.. Cuma yang saya ngga ngerti, kenapa ada resep A pakai susu segar, sementara resep B pakai buttermilk. Apa sih, bedanya?

Kalau dari rasa sih memang berbeda. Fresh milk yaa seperti susu cair pada umumnya, sementara buttermilk lebih asam hampir mirip seperti yoghurt. Fresh milk ngga bisa bikin sendiri karena musti minta ke 'mama moo', sedangkan buttermilk kita bisa bikin sendiri di rumah dari susu segar yang diampur dengan air perasan jeruk lemon / jeruk nipis.

Daripada penasaran, saya lemparlah pertanyaan itu ke milis NCC karena saya yakin banget disitu banyak anggota milis yang ngerti dan paham.. :) Dan mereka pasti dengan senang hati berbagi dengan saya..


Jadi begini, saya tarik kesimpulan aja dari ibu Maria Bouma, pak Budiman Halim , mbak Trinitati Saragih, dan mbak Dian Adiwaskita *halo semuanyaaa..* ~~>

Buttermilk aslinya adalah sisa dari proses pembuatan  butter dan cream, rasanya asam seperti yoghurt karena adanya bakteri baik Streptococcus lactis atau Lactobacillus bulgaricus yang tumbuh didalamnya. Rasa asam ini menandakan tingginya tingkat keasaman dalam produk tersebut yang akan sangat baik jika dipadukan dengan soda kue akan menimbulkan gas yang bisa menjadikan cake mengembang dengan baik. Asam + soda kue = soulmate.

Selain itu, penggunaan buttermilk dalam resep juga akan membuat cake lebih lembut, khususnya untuk jenis buttercake. Kalau untuk adonan sponge cake, penambahannya harus hati-hati karena kalau tidak, cake akan jadi berat dan bantat. Karena itu jarang sih ada resep sponge cake yang pakai buttermilk atau fresh milk, kebanyakan pakai susu bubuk karena akan lebih mudah dicampurkan dengan terigu. Eh, kalimat terakhir ini kesimpulan saya lhoo..

Sedangkan untuk rasa, cake dengan buttermilk akan lebih kaya dibandingkan jika kita hanya memakai fresh milk. Untuk memperkaya rasa, penggunaan fresh milk dalam resep bisa dicampurkan dengan buttermilk dengan perbandingan 50:50. Jangan diganti 100% karena cake nya akan mbludak, karena terlalu banyak gas didalamnya.

Buttermilk, selain bisa dibeli di TBK atau supermarket, bisa juga dibuat sendiri di rumah. Ada beberapa cara;
Cara pertama: 1 cup fresh milk ditambahkan dengan 1 sdm air perasan jeruk lemon / jeruk nipis. Diamkan 10-15 menit sebelum digunakan.
Cara kedua: 1 cup fresh milk ditambahkan dengan 1 3/4 sdm cream of tartar, aduk sebentar. Diamkan 10-15 menit sebelum digunakan.
Keduanya sama-sama akan menghasilkan susu yang terlihat sedikit menggumpal. Gunakan gelas kaca untuk hasil yang maksimal.

Jadi, demikianlah hasil pembelajaran saya kemarin. Efek sampingnya, makin penuhlah isi otak saya dengan ide-ide ajaib ^_^