Sebagai seorang ibu penuh waktu dari seorang bocah aktif berumur 2 tahun, waktu untuk diri sendiri sangatlah berharga. Anakku Bimo sangat aktif sepanjang hari, dari pagi hingga petang. Sebagai ibunya, otomatis aku tidak bisa lengah sekejap pun. Apalagi kalau dia tiba-tiba diam hening tanpa suara, pasti ada suatu proyek besar yang dikerjakan. Sangat berbahaya jika kita lengah.

Secara umum, anakku bukan anak yang rewel. Malah dia cenderung lebih “dewasa” jika dibandingkan dengan sepupu yang seumurnya. Mungkin karena dia anak pertama, dan kami ibu bapaknya memanggil dia dengan sebutan “mas”. Tetapi tetap saja mengasuh anak batita sangat menguras energiku. Apalagi tanpa adanya bantuan dari seorang asisten rumah tangga.

Beruntung pak Suami tidak pernah membebaniku dengan peraturan bahwa rumah harus selalu bersih, pakaian harus selalu licin diseterika, bahkan jika aku sudah nampak kelelahan dia pun tidak memintaku memasak untuknya. Sesekali aku juga masih diperbolehkan pergi sendiri bersama teman-temanku. Me time, katanya. Tentu saja dengan senang hati kunikmati.

Ada satu hobi yang sering aku lakukan pada waktu me time, yaitu memotret. Terutama memotret makanan, atau food photography. Benar-benar merupakan stress release yang jitu. Kegiatan ini biasanya aku kerjakan pada saat Bimo tidur siang. Lumayan, ada waktu 1-2 jam untuk menikmatinya selagi dia tidur.


Hobi fotografi makanan ini sebenarnya baru mulai kutekuni sekitar 6 tahun lalu. Karena harus berkontribusi membuat buku resep, mau tidak mau aku harus bisa memotret hasil masakan tersebut dnegan baik dan benar. Mentor pertamaku adalah mbak Ifah, editor dari suatu percetakan di daerah Bandung. Dialah orang luar yang pertama mengoreksi hasil fotoku. Dari dia aku belajar cukup banyak tentang hal yang paling dasar dari ilmu fotografi makanan.

Alhamdulillaah, sampai sekarang proses belajar masih terus berlanjut. Terakhir, aku berkesempatan untuk kerja bareng beberapa fotografer senior salah satu klub fotografi, untuk program amal peduli korban gempa di daerah Palu dan Lombok. Grogi? Pasti. Tetapi ini adalah satu kesempatan baik yang langka. Kapan lagi bisa naik kelas?

Sepertinya kegemaranku memotret ini menurun ke Bimo. Beberapa kali dia ikut sibuk mengatur mainannya di atas alas fotoku untuk dipotret. Pokoknya ikut sibuk seperti ibunya.

Begitu malam tiba, dan Bimo sudah tidur nyenyak, inilah waktuku dan pak Suami untuk bersantai setelah sehari penuh berkutat dengan urusan masing-masing. Tidak perlu sesuatu yang fancy, cukup dengan menikmati minuman hangat seperti kopi, teh, wedang jahe, atau yang sejenisnya.

Hangatnya Herbadrink Sari Jahe, nikmat. 

Supaya mudah, aku hampir selalu sedia Wedang Jahe dari Herbadrink. Tinggal seduh saja dengan air panas, aduk rata, lalu siap dinikmati. Praktis. Hangat di badan, pikiran menjadi rileks kembali. Tidur nyenyak adalah efek samping yang dinanti, meskipun tengah malam sesekali terbangun karena Bimo minta minum atau mengganti pospaknya yang sudah basah.


Herbadrink Temulawak hangat, enak juga.

Tidak hanya varian Wedang Jahe, ada dua varian lain Herbadrink yang juga aku suka: Lidah Buaya dan Temulawak. Keduanya bisa dinikmati hangat ataupun dingin. Aku lebih suka menikmatinya dingin. Apalagi jika diminum siang hari setelah beraktivitas. Badan terasa segar, dan siap untuk menemani Bimo berkegiatan.

Herbadrink Lidah Buaya, kesegaran yang hakiki.

Oh ya, varian Lidah Buaya ini bebas gula. Jadi kita yang sudah berumur segini bisa bebas menikmati kapan saja. Mengurangi asupan gula itu penting lho. Metabolisme tubuh kita makin “dewasa” makin melambat. Hingga melangkahpun akan terasa berat. Jangan lupa tetap bergerak, supaya kondisi tetap fit. Apalagi aku yang masih punya anak usia batita, harus selalu siap tempur. Hahaha..

Kalau bukan kita yang menjaga diri sendiri, siapa lagi?