Tampilkan postingan dengan label Tradisional Food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisional Food. Tampilkan semua postingan

Kalau kita bicara tentang budaya Indonesia itu sungguh ngga akan ada habisnya. Bagaimana tidak, lebih dari 360 suku yang ada di Indonesia semuanya memiliki ciri khasnya sendiri. Adat kebiasaan, pakaian daerah, bahasa, dialek. Begitu juga dengan kuliner khasnya, kita geser pindah wilayah sedikit saja sudah ikut berubah cita rasanya.


Aneka hidangan Nusantara yang menyelerakan! 

Kita ambil contoh misalnya, antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sama-sama di Jawa, tetapi beda propinsi. Kulturnya sudah berbeda, bahasanya, dialeknya, kulinernya. Yang di tengah terkenal dengan bahasanya dan dialeknya yang halus, yang di timur dikenal gahar tanpa basa basi. Cita rasa masakan tradisionalnya juga berbeda; masakan Jawa Tengah cenderung manis sedangkan masakan Jawa Timur cenderung asin dan pedas. 


Atau sama-sama di Jawa Timur, nih. Surabaya dan Madura yang hanya terpisah selat sepanjang 5,4 kilometer saja sudah beda banget kulturnya. Yang paling mudah, tentu saja bahasanya sudah jelas berbeda. Kulinernya juga, meski sama-sama banyak masakan yang menggunakan petis, tetapi berbeda jenisnya. Kuliner Surabaya lebih banyak menggunakan petis udang sebagai tambahan cita rasanya, sedangkan kuliner di Madura menggunakan petis Madura yang terbuat dari saripati ikan laut. 


Itu baru 2 kejadian yang dijadikan contoh. Bisa dibayangkan betapa meriahnya kalau 360++ suku disatukan. Indonesia kaya raya, bung! 

Yang pasti, karena kekayaan yang ada di Indonesia inilah yang membuat VOC tergila-gila ingin menguasai tanah air kita selamanya. Saking lamanya tanah air kita dikuasai Belanda, ngga heran kalau kuliner Indonesia pun ikut terpengaruh budaya mereka. Klappertaart, Roti Gambang, Selat Solo, adalah salah tiga yang paling terkenal diantara sekian macam jenis hidangan Nusantara terakulturasi kuliner Belanda. 


Roti Gambangnya, bu, pak, silakan.

Ngga hanya akulturasi dengan Belanda. Pengaruh China dan Arab juga ikut meramaikan kekayaan kuliner tanah air kita. Contoh paling mudah adalah mie. Semua suka kan? Iya, sama, aku juga 😆

Mie ini asalnya dari China, mereka pertama kali membuatnya sekitar abad ke-6 dengan cara sederhana, yang sampai sekarang masih ada yang menggunakannya, yaitu dengan cara menarik-narik adonan tepung hingga berbentuk semacam tali panjang yang lentur.


Atau mau mie goreng?

Contoh lain, ada Nasi Kebuli yang merupakan versi Indonesia dari Plov atau Pilav, hidangan nasi khas Timur Tengah yang berbumbu rempah bercampur daging dan disajikan dalam satu wadah piring besar untuk disantap beramai-ramai. Lalu ada lagi, Martabak 😁 Nah, kalau yang ini sudah ngga perlu diragukan lagi lah ya.. 



Untuk memeriahkan bulan Agustus bulan Kemerdekaan, spesial aku mau ngulik salah satu kuliner khas Sumenep, Madura, yang sudah lama banget aku idam-idamkan, yaitu Campor. Namanya lucu ya 😁 Terakhir kali aku makan Campor ini rasanya sudah lebih dari satu dekade lalu, dan sudah lama juga jadi wishlist untuk di recook.


Sepiring Campor penawar rindu.


Kuliner tradisional Madura ini aslinya banyak banget yang belum terekspos selain Nasi Bhuk, Soto Daging, atau Sate Ayam ya eheheh.. Ngga banyak orang yang kenal masakan Maronggi, Soto Sabreng, Korkit, Nase Jhejhen, Kaldu Kokot, atau Campor, kalau bukan orang yang minimal pernah tinggal di sana atau keturunan "taretan dibik" 😁


Nah, sejatinya Campor ini adalah soto daging kuah santan, yang disajikan dengan lontong, soun, bumbu kacang dan petis Madura, tambahan kecap manis, plus taburan daun bawang dan toge pendek yang digoreng. Oh, perasan air jeruk nipis juga ditambahkan untuk memperkaya rasanya.


Sudah kebayang? 


Yang bikin rasanya khas ini tentu saja petis Madura, sang primadona. Cita rasa petis ini berbeda dengan rasa petis udang, dia lebih tajam rasa ikannya dan teksturnya lebih liat seperti gulali. Biasanya kalau lagi males bikin sambel, pakai petis ini aja sama rawit, lalu diulek, sudah beres. Dimakan sama nasi hangat, ikan goreng, sayur Maronggi, aduuhh nikmat luar biasa!


Petis Madura, harta karunku.

Sayur Maronggi itu apa?

Sayur daun kelor khas Madura, cara masaknya pernah aku unggah di sini. Mirip seperti Bubur Manado, tapi dalam versi yang lebih light. 


Sudah cukup iming-imingnya 😁 Kita masak Campor yuk.. Kalau di Sumenep sih, masakan ini disajikan sebagai menu sarapan. Biasa ditambahkan Korkit atau kroket singkong, sebagai side dish yang membuat cita rasanya makin comfy. 


Zoom in biar makin ngiler 😁

Resepnya aku dapat dari Yunda, adik Abiku yang masih tinggal di Sumenep. Sebagai anak keturunan Madura, dari kecil aku sudah familiar banget dengan kuliner khas sana. Yang aku ingat setiap pulang ke Sumenep, kami semua selalu makan bersama sambil duduk melingkar di atas bale bambu yang besar banget di ruang makan. Sambil tercium aroma sangit asap kayu bakar dari dapur Mbah Ibuk Rahimahullah. Lalu minumnya air putih yang warnanya merah karena selalu ditambahkan secang setiap kali memasak air untuk minum. Ya Allaah, makin rinduuu.. 

Lah, jadi nostalgia. Yuk, masak sekarang. 


Campor Songenep


Bahan soto daging:

500 gr daging sapi tetelan

6 butir bawang merah

4 siung bawang putih

Pala

Merica

Gula

Garam

Daun bawang

65 ml santan instan kemasan

1½ - 2 liter air

Minyak goreng


Bahan bumbu kacang:

100 gr kacang tanah, goreng

1 sdm petis Madura

Cabe rawit

Air panas secukupnya

Sedikit garam

--> ulek halus semuanya


Bahan pelengkap:

Lontong

Soun

Toge pendek, goreng

Rajangan daun bawang

Kecap manis

Jeruk nipis


Caranya:

- Potong dadu daging, lalu rebus hingga empuk. 

- Haluskan duo bawang, pala, dan merica. Potong- potong daun bawang agak panjang. Panaskan minyak goreng, lalu tumis hingga matang dan harum. 

- Masukkan bumbu tumis ke dalam rebusan daging, tambahkan santan, gula, garam, tes rasa, lalu masak hingga bumbu meresap dan daging matang sempurna. Siap disajikan. 

- Cara penyajiannya: atur lontong di piring, lalu beri soun di atasnya, tambahkan bumbu kacang, lalu siram dengan soto daging, tambahkan kecap, daun bawang, toge goreng, dan air perasan jeruk nipis. 

- Selamat menikmati!


Rindu terobati meski sayang kurang Korkitnya, mau bikin udah ngga keburu karena sudah terlalu rindu 🤭 Nanti deh lain waktu pengen bikin Campor versi yang lengkap. Yang ini juga hasil akhirnya masih dikoreksi Yunda, karena ngiris daun bawangnya terlalu besar, kurang halus. 


Soto daging kuah santan ini juga enak kalau tampil mandiri, alias dijadikan lauk untuk makan nasi. Terutama untuk anak-anak yang kadang masih menolak untuk makan jenis masakan yang kurang familiar di lidah mereka. Beberapa resep ada yang menambahkan cabe merah, kayu manis, dan cengkeh sebagai penambah cita rasanya. 


Tertarik mencoba? 

Jangan ragu, kak. Masak sendiri di rumah kalau perlu. Dengan begitu, kita bisa mengenalkan aneka hidangan Nusantara kepada anggota keluarga lainnya supaya menu di meja makan ngga monoton itu-itu saja. Selain memperkaya pengetahuan tentang aneka hidangan Nusantara, siapa tahu kita bisa menemukan hidangan favorit yang baru untuk keluarga, kan? 


Selamat bereksplorasi dengan kuliner Nusantara!


 

__

Tulisan ini aku buat spesial untuk meramaikan event IDFB dalam rangka perayaan hari Kemerdekaan RI ke 79. Semoga Indonesia makin baik, rakyat makin makmur, gemah ripah loh jinawi. 


Teringat harapan di akhir tahun 2011 supaya aku masih diberi kesempatan nyicip dan motret lebih banyak lagi kuliner Nusantara. Oh ya, Alhamdulilah tahun 2012 lalu terwujud. Pucuk dicinta, dapat kerjaan masak dan motret hampir 30 macam masakan Nusantara. Mulai Balado, Rendang, macam-macam Gulai, Soto Betawi, Pepes Ikan, Rawon, Soto Ayam, sampai Woku. Wuih senangnyaaa!
 
 
Indonesia kaya banget kulinernya ya..

Meski bumbunya udah berupa racikan halus dari sana, tetap aku harus tau bahan-bahan bumbunya apa saja dong.. Minimal jangan sampai keliru naruh properti cabe rawit di foto bahan bumbu gulai. Atau ketinggalan  daun kunyit untuk foto bahan bumbu rendang. Harga diri dipertaruhkan, ahahaha..
 

Kuliner Nusantara yang penuh rempah!

Sungguh itu adalah pengalaman kuliner yang paling berkesan buatku sepanjang 2012 lalu. Proyek yang panjang, dari target 2 bulan selesai, molor sampai 5 bulan karena aku kena batuk dan "dia" ini betah banget ngga mau pergi. Qaddarullah. Untung klien-ku baik hati, ngga terlalu narget juga yang penting dikerjain dan fotonya bagus. Dan kami sekeluarga bener-bener dimanjakan  oleh ragam kuliner Nusantara. Alhamdulillah.

Oke cukup cerita kerjaannya, sudah berlalu. Kata orang kita harus move on supaya ngga terjebak di masa lalu. Eh, apasih?

*nyruput kopi dulu*

Jadi, kalian masak apa akhir tahun kemarin? Indonesian Food Blogger lagi bikin IDFB Blog Challenge nih. Temanya seru, tentang Kuliner Nusantara untuk Hidangan Akhir Tahun. Asyik bangeeett!


Ini dia, Sambal Kecombrangku


Aku bikin Sambal Kecombrang ala Bali, atau kalau di sana namanya Sambal Bongkot. Bikinnya simple, tapi percayalah, rasanya enak banget! Sayang di Malang sini jarang ada yang jual Kecombrang. Akibatnya masakan dengan bahan Kecombrang jadi kurang familiar di sini. Padahal Kecombrang ini adalah bahan aromatik yang biasa dipakai sebagai "penyedap" masakan Nusantara.
 
Sebentaaar, Kecombrang ini apa sih?

Menurut Wikipedia, Kecombrang ini adalah jenis tanaman rempah dan ternyata ngga hanya bunganya, buah dan bijinya bisa dimanfaatkan sebagai bahan masakan. Sungguh aku belum pernah tau bentuk buah dan bijinya itu seperti apa, karena yang lazim dimasak adalah bagian bunga dan tunasnya.
 

Bunga Kecombrang, hasil belanja di pasar Oro-oro Dowo


Selain untuk sambal dan campuran tumis sayuran, Kecombrang dipakai untuk memasak Arsik Ikam ala Batak,  lalu dijadikan salah satu sayur dalam Pecel ala Bamyumas, lalu ada lagi masakan ikan kuah kuning Pallu Mara di Sulawesi Selatan sana, macam-macamlah kalian guling aja. Kebanyakan sih untuk campuran bumbu masakan ikan, ya, mungkin karena aromanya yang cukup kuat jadi  bisa meredam bau amis ikan.
 

Nah kalau ini udah aku tambahin dengan ayam suwir. Makin endeus..

 
Bentuk tanamannya mirip dengan tanaman Lengkuas. Sependek pengetahuanku bunganya ada yang berwarna merah dan ada yang berwarna merah muda. Aku belum tau bedanya apa, karena yang banyak dijual adalah yang merah muda.

Aslinya, untuk Sambal Kecombrang ala Bali ini yang dipakai bukan bagian bunga Kecombrangnya melainkan tunas batang yang baru tumbuh, nah ini yang namanya bongkot. Karena itulah di sana disebutnya Sambal Bongkot. Aroma dan rasa bunga Kecombrang dan bongkotnya sih sama aja, kan emang pohonnya sama.
 
Buat yang pengen tau, rasa dari Kecombrang ini sepintas mirip serai tapi lebih ada wanginya, dan ada rasa getir di lidah. Buat yang baru pertama mencoba, saranku gunakan dalam porsi lebih sedikit dari takaran resep aslinya. Kalau klik sama rasanya, lain waktu bikin lagi bisa sesuai takaran di resep atau mau dilebihin juga makin sedep!

Sambal Kecombrang
 
Bahannya:
3 batang bunga Kecombrang
6 buah bawang merah
Secukupnya cabai rawit
3 lembar daun jeruk (aku kelupaan, dasar amatir)
1 buah jeruk limau ukuran kecil
1 sdt terasi
Garam
Minyak kelapa
 
Caranya:
- Rajang halus kecombrang (tangkainya juga), lalu beri garam, bejek-bejek, diamkan.
- Bawang merah, cabai, dan daun jeruk (buang tulang daunnya dulu ya, supaya ngga pahit) semuanya dirajang halus. Masukkan ke dalam mangkuk, sisihkan.
- Bilas kecombrang di air mengalir, lalu tiriskan. Campurkan ke dalam rajangan bawang dan teman-temannya.
- Tambahkan terasi dan garam, aduk rata sambil dibejek-bejek supaya saripatinya keluar semua. Ini yang bikin sedap.
- Panaskan sedikit minyak, lalu masukkan bejekan sambal tadi, tumis sebentar sampai kecombrang layu.
- Setelah matang, tambahkan perasan jeruk limau, aduk rata. Siap disajikan.
 
Citarasa Sambal Kecombrang ini mirip dengan Sambal Matah sih. Hanya saja ada tambahan aroma dan rasa Kecombrang di sambalnya. Sambal ini cocok banget dengan ikan bakar, ayam bakar, bahkan singkong rebus atau singkong goreng pun enak banget pakai sambal kecombrang ini. Ideal banget kan untuk pelengkap acara "bakar-bakaran" di akhir tahun.
Kalau ngga ketiduran ahahaha..
 
Menutup akhir tahun 2022, memasuki awal tahun 2023, harapanku masih sama. Diberi kesehatan dan kesempatan lebih banyak lagi untuk menikmati kuliner Nusantara lainnya. Terutama kuliner dari Indonesia Timur yang cukup susah ditemui di Indonesia bagian Malang sini. Aamiin!

Kenapa juga judul tulisannya begini 😅 Ya karena menurut cerita sejarahnya memang begitu. Roti Gambang memang kuliner warisan Belanda yang asli dari Indonesia karena Belanda sana ngga ada roti ini. 


Roti Gambang


Sebetulnya aku sudah cukup lama mendengar nama makanan itu, kurang lebih sekitar tahun 2014 awal tinggal di Cibubur. Tapi seingetku, kali pertama makan adalah setelah tinggal di Malang awal 2021 gitu deh. Belinya pun impor dari Mbak Susi, sesama Tukang Jajan di salah satu komunitas baking yang aku ikuti. 

Ada alasan kenapa aku ngga pernah jajan roti itu; yang doyan panganan berbahan kayu manis cuma aku! Paksu ngga suka. Bimo, entahlah, dalam hal yang satu ini sepertinya dia nurun Bapaknya. Demikianlah, pada akhirnya aku amat sangat jarang pakai bahan kayu manis ini kecuali kalau ada pesanan khusus. Kadang juga kalau pas lagi bikin roti, aku sengaja sisihkan adonannya untuk dijadikan cinnamon roll atau babka.


Balik lagi ke cerita tentang si Roti Gambang, dari awal baca deskripsi tentang cita rasanya, aku udah mikir duh-kayaknya-ini-enak-banget. Gimana engga, ada rasa cokelat yg legit dipadu aroma rempah, sungguh menggiurkan buat penggemar makanan eksotis macam aku begini.

Dan ternyata bener. Rasanya manis legit, ditemenin kopi hitam, oh sungguh pasangan serasi. Meski menurut sejarahnya, Roti Gambang ini temannya adalah teh! 


Roti Gambang hasil jajan ke mbak Susi


Cerita sejarahnya Roti Gambang ini lahir di Indonesia, tepatnya di Batavia, dari warga Belanda yang tinggal di sana pada jaman awal masa penjajahan sekitar abad 18-19. Mereka sarapannya cake atau roti, bukan nasi, porang, singkong, atau bahan makanan pokok asli Indonesia lainnya. Dan favorit banget sama yang namanya rempah-rempah seperti adas, pala, kayumanis, kapulaga, cengkeh, dan semacamnya.


Oke, pernah dengar nama kue Ontbijtkoek?

Ini adalah sponge cake khas Belanda yang menurut om Wiki, Ontbijkoek ini artinya adalah kue sarapan pagi. Dibuat menggunakan tepung dari gandum hitam dan dibumbui bermacam rempah. Biasanya dimakan dengan olesan mentega di atasnya dan disajikan bersama teh untuk hidangan sarapan di sana.

 

Untuk mengakomodir kebiasaan mereka tersebut, maka dibikinlah Ontbijtkoek dengan kearifan lokal yang dinamakan Roti Gambang oleh sebuah bakery milik warga Belanda di Batavia. Penamaannya juga berdasar bentuk aslinya yang menyerupai alat musik tradisional Betawi, gambang kromong.

Bahan utamanya (yang di Indonesia ngga ada pada waktu itu) tentu saja diganti dengan bahan lokal, seperti tepung gandum hitam diganti dengan tepung singkong, pemanisnya pakai gula jawa/gula merah, rempahnya juga dipilih yang banyak terdapat di Indonesia. Karena itulah tekstur Roti Gambang ngga selembut Ontbijtkoek meski awal mula ide pembuatannya berasal dari sana.


Makin ke sini, model Roti Gambang pun makin bervariasi. Bukan hanya variasi bentuk, sekarang ada juga yg diberi macam-macam topping dan isian di dalamnya. Aku sih belum tertarik untuk coba icip yang dimodifikasi begitu, karena memang lebih milih yang original, meski kata teman-teman di IDFB yg pakai isian selai nanas itu enak.


Iyaa, obrolan tentang Roti Gambang di WhatsApp Group Indonesian Food Blogger kapan hari itu meriah banget! Dan lengkap termasuk lokasi jajan di mana dan resep juga ada. Kompor banget dah ah.. Maka itulah komunitas kesayangan ini bikin event IDFB Blog Challenge tentang Roti Gambang. Ikutan yuk!

 

Karena merasa terkompori obrolan di WAG waktu itu, akhirnya kan aku jadi ikutan bikin juga 😅 Not bad for the first timer, nanti kapan-kapan pengen coba bikin lagi.

Susah ngga sih bikin Roti Gambang?

Buat aku sih cukup mudah. Karena hanya tinggal aduk-aduk, bentuk, panggang, udah. Kuncinya adalah memakai gula aren organik yang manisnya pas. Karena kalau pakai yang biasa-biasa aja, rasa manis legitnya berasa kurang nendang. Dan warnanya juga kurang cantik. Selain gula arennya mesti yang cakep, bahan rempah lain juga usahakan pakai yang masih fresh supaya aroma rempahnya kuat memikat. Ngaduk adonannya juga jangan sampai overmix supaya teksturnya ngga keras.


Hasil pertama kali bikin Roti Gambang


Ohiya, ternyata pada World Bread Day tahun 2019 lalu, Roti Gambang ini masuk ke dalam daftar 50 roti terenak di dunia versi CNN lho! Roti Gambang disandingkan dalam “50 of The World's Best Breads" bersama  sejumlah roti dari negara lain seperti Baguette dari Prancis, Ciabatta dari Italia, atau Roti Canai dari Malaysia. Cakeppp.. 


Gimana, kamu berminat mencoba ngga? 

Pertama kali bikin bebek panggang ala HongKong ini. Asli uji nyali karena belum pernah sama sekali bikin olahan dari unggas yg satu ini. 




Di WAG TJ sih ada mb Estuty yg sering bikin beginian. Yg bikin keder adalah proses masaknya yg sampe 2-3 hari 😬 Sabar banget kan yaa diatuuu.. Makanya aku rada nganu waktu Paksu rikwes bikin bebek ini.


Iseng gugling, ada yg cuma 2 jam-an aja. Ywd yuk dikerjakan!


Bebek Peking Panggang ala HongKong

- resep asli dr sini  -


Bahannya:

1 ekor bebek peking ukuran sedang (1 kg)

1½ lt air

4 cm jahe, memarkan

4 siung bawang putih, memarkan

50 g bawang bombai, potong kotak 2 cm

2 butir pekak

4 cm kayu manis

1 sdm bumbu ngohiong bubuk

1 sdm saus tiram

1 sdm kecap manis

1 sdm kecap asin

1 sdm angkak, haluskan

1 sdt garam

1 sdm gula pasir

2 sdm madu, untuk olesan


Bahan isi, aduk rata:

2 batang daun bawang, iris 3 cm

3 siung bawang putih, haluskan

50 g bawang bombai, haluskan

3 cm jahe, haluskan

1 sdt bumbu ngohiong bubuk


Caranya:

- Potong bagian kaki dan ekor bebek. Aku pernah lihat yucub, bagian ekor ini ada yg mesti dibuang karena bikin bau. 

- Masukkan bahan isi ke dalam perut bebek hingga bahan isi habis. Jahit perut bebek dengan benang kasur hingga rapat, sisihkan.

- Rebus air bersama bahan² bumbu (selain madu), aduk hingga rata, masak hingga mendidih.

-Masukkan bebek ke dalam rebusan, siram-siram permukaan kulit bebek, lalu rebus selama 90 menit hingga bumbu meresap dan matang. Usahakan bebek kerendam semua biar ngga perlu dibolak-balik. 

Bisa empukkah bebeknya? Bisa! Akupun merasa takjub 😅

- Setelah bebek berwarna coklat kemerahan, angkat, tiriskan bebek. Diamkan sebentar.

- Oles permukaan kulit bebek dengan madu, panggang bebek dengan suhu 180⁰C selama 15 menit

- Angkat, iris bebek sesuai selera, sajikan. Untuk panduan cara ngiris²nya banyak di yucub kalau mau nyontek ya.. 


Sausnya?

Kata mb Febry: pake saus hoisin atau saus plum, biasanya. 

Lalu dapat contekan dr suhu Hana: rajang halus baput tumis sampai kuning dan harum, kasih saus tiram, kecap manis, gula dan minyak wijen.

Cara sesatku karena malas aja: pake cocolan sambal Bangkok 😬

Lalu dikomen Inang Yanti katanya aku belum tobat ngacak² pakem resep..


PR ku sekarang adalah mau diapain kaldu sisa rebusannya? Ada ide? 


Yuk ah, selamat rikuukk 🍉

Bikin kelepon yuk! 

Mumpung lagi punya ubi ungu cakep banget. Dan piaraan kelapa muda parut di friser 😎




Kelepon Ubi Ungu


Bahannya:

150 gr tepung ketan putih

200 gr ubi ungu kukus, haluskan

½ sdt garam halus

150-175 ml air (sampai adonan bisa dipulung)

Air untuk merebus

1 lbr daun pandan


Bahan isi:

75 gr gula merah serut


Bahan taburan:

½ btr kelapa, parut

¼ sdt garam halus

1 lbr daun pandan

➡️ campur rata dan kukus 15 mnt


Cara membuatnya:

- Campur ubi ungu, tepung ketan, dan garam, aduk rata. Tambahkan air, sedikit demi sedikit, sambil diuleni, sampai adonan asal bisa dipulung. Jangan terlalu lembek ya, nanti bleberan. 

- Ambil sedikit adonan, bentuk bulatan, isi dg gula merah. Lakukan sampai semua adonan habis. 

- Rebus air dan daun pandan. Setelah mendidih, kecilkan api, masukkan bulatan adonan, lalu rebus hingga adonan mengapung tanda sudah matang. Angkat, lalu gulingkan ke kelapa parut yg sudah dikukus. 

- Sajikan. 


Selamat rikuuukk 🍉

Lagi rajiiiinnn 😅

Udah lama sih ngangen² pengen Pampis Cakalang. Cuma kalau bikin sedikit malu sama bumbu yg sehohah. Apalagi serumah sini cuma aku yg maniak makan ikan. Paksu & Bimo masih lumayan meskipun agak milih jenis ikannya.

Sejak menulis beberapa resep masakan Manado beberapa tahun lalu, lidahku jadi nagih sama masakan daerah sana. Kapan hari sempat bikin Ayam Woku, Alhamdulillaah cuma aku yg suka 😅 Penduduk di mari seleranya masakan Jawa tulen, jadi begitulah. 

Qadarullaah, untuk latbar NCC Malang besok kita harus bawa potluck. Jadilah hari ini aku masak pampis, tapi pakai pindang ikan Tongkol yg gedey itu. Masih sosodaraan lah ya, mereka berdua. Kalo bisa dapet Cakalang fufu sih lebih nendang lagi rasanya.

Secara garis besar aku pakai resep dari Xanderskitchen, idola sejuta emak Indonesia 😉  Resep yg kutulis di bawah ini sudah dengan penyesuaian kanan kiri yes.


Bahannya:
- Separuh bagian pindang tongkol yg gede, suwir²
- Air jeruk nipis
- Daun kemangi, petik
- Minyak  goreng utk menumis
- Garam
- Gula

Bumbu yg dirajang halus:
- 2 btg sereh
- 5 lbr daun jeruk
- 2 lbr daun kunyit,
- 1 lbr daun pandan
- 2 btg daun bawang

Bumbu yg dihaluskan:
- 12 btr bawang merah
- 6 siung bawang putih
- 10 bh cabe keriting merah
- 15 bh cabe rawit
- Seruas kunyit
- Seruas jahe


Caranya:
- Panaskan minyak, tumis bumbu halus sampai harum. Lalu masukkan bumbu rajang, masak hingga bumbu matang & harum.
- Masukkan suwiran Tongkol, dan air jeruk nipis, aduk rata. Tambahkan sedikit air kalau perlu. Masak hingga bumbu meresap.
- Terakhir, masukkan kemangi, garam, dan gula. Tes rasa jangan lupa ya. Aduk rata. Masak hingga semua bumbu meresap dan air mengering.
- Sudah selesai. Tinggal ambil nasinya.


Mari makang!
Akibat punya piaraan labu kuning segelundung, sudah tua banget sampai kulitnya keras. Bingung mau dibikin apa, masa di kolak lagi.. Akhirnya aku recook kleponnya mbak Lely 😋 Yumm! Suwun mbakyu 😘

Tumben banget ini aku bikin jajan tradisyenel. Embuh kesambit apa. Biasanya mending beli laaah.. Resepnya ikut mbak Lely, tapi agak sedikit aku sesuaikan takarannya mengikuti feeling.


Kelepon Koneng

Bahan A:
200 gr labu kuning, kukus, haluskan
180 gr tepung ketan
¼ sdt garam
Gula aren utk isian (aku pakai yg halus)
Air untuk merebus
1 lembar daun pandan, simpulkan

Bahan B:
¼ butir kelapa agak tua, parut
Sedikit garam

Caranya:
Campur labu, tepung ketan, garam, uleni hingga kalis. Air ditambahkan jika adonan terasa kering.
Ambil sedikit adonan, pipihkan, isi dengan gula aren, lalu tutup adonan hingga membentuk seperti bola. Lakukan hingga seluruh adonan habis. Sisihkan dulu.
Campur bahan B, kemudian kukus hingga matang. Angkat, sisihkan.
Didihkan air, beri daun pandan. Kemudian masukkan bola² adonan tadi. Masak hingga mengapung dan matang.
Angkat. Tiriskan, lalu gulingkan ke dalam kelapa kukus tadi hingga rata.
Sajikan.

Jadinya ngga terlalu banyak. Cukuplah untuk ngotorin gigi dan ngisi pojokan lambung.