Sudah tau semua dong, Indonesia kita ini kaya ragam kulinernya. Sederhananya aja deh, yang namanya sambal ada berapa macam di Indonesia? Banyak. Dari yang sekedar cabai digaremin sampai sambal yang pakai bahan durian, lengkap! Tetapi ngga semua warga negara Indonesia kenal dengan apa itu yang namanya Sambal Roa, Sambal Tempoyak, Sambal Cibiuk, dan lain-lain. Itu baru sambal lho ya, belum jenis masakan lainnya.. 

Nah, supaya kuliner Indonesia dikenal lebih luas lagi, mumpung lagi perayaan 70 tahun Kemerdekaan Indonesia dan 53 tahun Hotel Indonesia, maka diadakanlah perhelatan kulinari Indonesia yang diberi judul 5 Islands in 5 Weeks di Signature's Restaurant Hotel Indonesia Kempinski. Aseli seru! Meskipun cuma kebagian hari terakhir, tapi sungguh ini ngga terlupakan. 


Nice ambience, friendly service and hospitality, good food, semua komplit jadi satu di sini. Ngga salah kalau resto ini dinobatkan jadi salah satu restoran terbaik di Indonesia. 

Entrance yang bernuansa Indonesia

Skylight yang berada tepat di tengah ruangan membuat suasana hangat

Interior nyaman yang bikin kita betah berlama-lama

Kehangatan khas Indonesia
Sengaja pilih minggu terakhir, karena aku merasa masakan Sulawesi & Maluku ini spesial. Menurutku ngga banyak restoran atau rumah makan yang menyajikan menu-menu unik dari wilayah tersebut. Kalau toh ada, menunya juga yang umum saja. Benar aja, banyak menu ajaib yang disajikan. Chef Petty Elliott, you did a great job! Thank you..! Sayang aku ngga berkesempatan bertemu beliau..

Penataan meja display, Indonesia banget kan?

Keunikan peralatan khas Indonesia

Sebagai menu pembuka, banyak sekali pilihannya. Tapi tetap harus konsisten dong, cicip dan pilih yang khas Sulawesi & Maluku saja ya.. :D

Landau Lauk Pare, adalah salad pare yang Segar dan crunchy. Ada aroma laut yang tipis seperti rasa ikan cakalang yang khas, menambah keunikan rasanya. Pahit sih, tapi seger.

Gohu Udang, nah, ini rujak pepaya a la Manado. Setauku biasanya disajikan polos saja, tetapi chef Petty menambahkan udang di dalamnya. Ringan dan segar.

Coto Makasar, biasanya sih ini untuk menu utama. Ehehehe.. Tetapi ngga ada salahnya kalau dijadikan appetizer. Menurutku, rasa Coto olahan Chef Petty ini enak sekali. Beda dengan yang pernah aku cicip. Light, tapi bumbu rempahnya aduhai menendang-nendang! Tekstur dagingnya pun lembut, tetapi ngga sampai overcooked. Aduuh.. Enak!

Air Goraka, minuman istimewa yang terbuat dari campuran gula merah, jahe, dan kacang kenari. Disajikan dingin, namun terasa hangat di tenggorokan.

Gohu Tuna Ikan, alias salad ikan tuna khas Maluku. Kelewat nyobain, jadi ngga bisa review. Tetapi dari penampakan sepertinya menu ini sangat menantang..


Next, makanan utama. Nasi dong ;)


Nasi yang disajikan adalah Savoury Rice alias Nasi Gurih. Beras yang dimasak dengan santan dan bumbu rempah pilihan yang menjadikan cita rasa nasi ini makin nikmat.

Pilihan lauknya sangat beragam. Nama-namanya juga terdengar ajaib di telinga. Supaya bisa nyicip semua, nasinya sedikit dong. Jadi bisa nambah. Eh..

Mie Goreng Sambal Roa. Enak. Banget. 
Prawn Tuturuga, biasanya pakai ayam atau daging, eh ini pakai udang. Makin istimewa lah. Spicy enough, ngga terlalu pekat juga bumbunya. Enak.
Tumis Bunga Paya yang ngga ada pahit-pahitnya. 
Semuanya terasa pas beradu dengan Nasi Gurih.

Lanjut pakai Nasi Kuning khas Manado dong. Teksturnya mirip-mirip Nasi Gurih, tetapi lebih terasa rempahnya akibat penambahan kunyit di dalamnya. Nasi Kuning khas Manado ini sejatinya dihidangkan dengan Abon Cakalang, keripik ubi, dan Sambal Roa. Tetapi, sengaja aku padankan lagi dengan menu lauk lainnya.
Sayur Poki-Poki Masak Santan, alias terong bumbu santan dengan tuna asap. Rasanya mirip-mirip dengan lodeh meskipun menurutku ngga segurih lodeh Jawa.
Daging Pantallo Pamarason, daging masak hitam. Mirip dengan Rawon ya, tetapi kuahnya lebih sedikit dan kental. 
Oya, Sambal Roa yang disajikan ini menurutku juga enak sekali. Rasa ikan Roa-nya juga nendang. 

Ngintip pilihan Pak Suami ah..
Selain Nasi Gurih dan Mie Goreng Sambal Roa, dia pilih Ikan Kakap Woku Belanga (yang ternyata ngga tercium amis sama sekali), Tumis Kacang Panjang, dan Gulai Telur.
Perfect.


Setelah puas menikmati aneka hidangan utama, lanjut ke dessert ya..


Klappertaart, pilihan nomer satu. Disajikan dalam gelas mungil, tapi jangan salah, rasanya tetap istimewa. Apalagi wangi kayu manis yang cukup kuat menambah cita rasanya makin istimewa.


Es Pallu Butung, segar dalam porsi imut. Ternyata enak juga rasa santan yang legit berpadu dengan saus strawberry yang asam-asam segar. 


Barongko, ah, ini juga asyik. Olahan pisang yang manis, gurih, dan lembut ini nikmat membelai lidah. 

Selain dessert khas Sulawesi & Maluku, ada juga hidangan penutup dari daerah Indonesia lainnya dan dari Mancanegara.


Salah satunya adalah Pine Nut Almond Cream yang aduhduh enak sekali. Teksturnya lembut, bercitarasa manis dan segar. 


Wah, puas rasanya siang ini explore aneka kuliner khas Sulawesi & Maluku. Meskipun ngga bisa semua dicicip, tetapi cukup banyak menambah pengetahuan kita tentang seberapa kayanya Indonesia ini. Sayang kalau disia-siakan..


Enjoy!


Signatures Restaurant
Hotel Indonesia Kempinski
Jl. MH Thamrin No. 1 Jakarta 10310
Telepon: (021)2358-3800
Jam Buka: 06.00 WIB - 23.00 WIB

Estimasi biaya: IDR 700,000 (2 pax)





Finally, this Old-fashioned Pumpkin Pie has been executed 😁
Punya kabocha dua gelundung dipiara sejak nyaris 2 bulan lalu akhirnya aku berdayakan. Sebenarnya sebelumnya udah aku bikin chiffon, tapi hasilnya masih belum pas, jadi tayangnya ntar aja kalau udah oke. 

Pilihan jatuh ke pumpkin pie. Nanya simbah, sepertinya resep Simply Recipes terlihat enak. Lalu pie crust, maunya yang eggless menyadur punya Eugenie Kitchen karena bahan pumpkin curd nya udah lumayan berkalori. Nggaya pake ngitung kalori segala.. Ehehehe..

Yukmari, langsung saja.



Bahan pie crust:
200 gr tepung terigu
110 gr mentega dingin
2 sdm gula pasir
2-4 sdm susu cair

Bahan pie curd:
1 cup purée labu kuning (aku dapat dari 1/3 kabocha kukus yang dihaluskan)
3/4 cup whipped cream
1/4 cup gula pasir
1 telur utuh
1 kuning telur
Sejumput kayu manis bubuk
Sejumput pala bubuk
Sejumput cengkeh bubuk



Cara membuat:
Siapkan 12 buah cetakan pie diameter 7 cm (ukuran A). Panaskan oven 170°C.
Campur semua bahan pie crust kecuali susu cair, masukkan food processor, aduk hingga berbulir, kemudian tambahkan air dan lanjutkan hingga membentuk gumpalan. Kemudian bagi menjadi 12 bagian, cetak di dalam cetakan pie. Sisihkan.
Campur jadi satu semua bahan pie curd, aduk hingga rata. Tuang adonan ke dalam pie crust, hingga penuh.



Panggang selama 15 menit, kemudian turunkan suhu oven hingga 130°C dan lanjutkan memanggang selama 30-40 menit.
Setelah matang, keluarkan dari dalam oven. Diamkan selama 10 menit, kemudian keluarkan dari dalam cetakan. Sajikan.


Enak, sodara-sodara.
Happy baking!

Masih demen bikin roti.
Kali ini kepingin memanfaatkan mashed potatoes instan oleh-oleh dari Bu Estherlita tempo hari. Karena kalau dimakan sesuai kodratnya, alamat aku aja yang habis kan. Tapi kalau dijelmakan ke bentuk lain, in syaa Allaah aman 😁

Yuk mari..
Resep aku sadur dari sini, dengan beberapa penyesuaian. Sebagian aku jadikan burger bun, sebagian lain jadi donat.. Yeyeayy..!


Bahannya:
1 cup gula pasir
1 cup mashed potatoes (aku: 50gr yang instant + 1 cup air panas, aduk rata)
1/2 cup mentega
3 butir telur
1 1/2 sdt garam
11 gr ragi roti
1 cup air (aku: 1/2 cup lebih dikit)
5 cup tepung terigu
Kuning telur & susu cair untuk olesan

Caranya:
Aduk rata tepung terigu, gula pasir, ragi roti, dan mashed potatoes. Tambahkan telur, garam, dan mentega, aduk rata.
Masukkan air sedikit demi sedikit sambil terus diuleni hingga kalis elastis. Air jangan dimasukkan semua, khawatir adonan terlalu basah.
Setelah kalis, diamkan dough sekitar 30 menit hingga mengembang 2 kali lipat.
Bagi adonan sesuai selera. Kalau mau jadinya mini-mini ukuran @ 30gr. Kalau mau agak gedean bisa @ 60gr.
Setelah dibagi-bagi, bentuk sesuai selera. Atur di dalam loyang yang sudah dioles dengan margarin. Diamkan lagi sekitar 30 menit hingga mengembang cantik. Kalau mau dioven, oles permukaannya dengan bahan olesan.
Panaskan oven dengan suhu 200°C. Setelah oven benar-benar panas, panggang roti hingga matang.
Kalau mau bikin donat, goreng dalam minyak panas api sedang hingga matang.


Jadi demikianlah, yang burger bun masih dipelihara di wadah kedap udara untuk sarapan besok, yang donat sudah diselamatkan untuk kudapan sore tadi 😁😁


Happy baking..!



Blog berdebu, mari kita gosok lagi 😁

Berawal dari rikues Pak Suami yang lagi pingin makin "roti pizza" which is a caterpillar bread, dan pas kebetulan juga hari Sabtu lalu ada demo bikin roti manis oleh Ibu Fatmah Bahalwan, the NCC's founder.

Jujur aja, bukan resep yang aku kejar, tapi tekniknya. Karena kalau resep sih so-so ya.. Teknik ini yang ngga bisa kita pelajari cuma dengan membaca. 
Dari sini aku tau, kurangnya apa. Yg pasti, ngulenku belum kalis elastis. Meskipun pake mas Jerman a.k.a Bosch, tapi kurang lama, supaya bisa dapet dough yang cantiks.




Resepnya begini ya..

Bahan A:
500 gr tepung terigu protein tinggi
100 gr gula pasir
11 gr ragi instan
½ sdt bread improver (aku skip)

Bahan B:
4 btr kuning telur
225 ml air es

Bahan C:
100 gr mentega
½ sdt garam

Cara membuatnya:
Aduk semua bahan A, beri bahan B, uleni sampai bergumpal-gumpal.
Tambahkan bahan C, uleni hingga kalis. Bulatkan, diamkan 30 menit.
Kempiskan adonan, potong timbang @30gr (aku: 40gr). Bulatkan licin. Diamkan 15 menit.
Bentuk dan beri isi sesuai selera. Diamkan lagi 30 s/d 60 menit. 
Polesi atasnya dengan campuran kuning telur dan susu, panggang dalam oven suhu 180’C, selama lk. 20 menit, atau hingga matang.

Note:
Sebaiknya sih pakai oven yang punya tapi atas. Tetapi kalau cuma punya otang kayak aku gini, ya gakpapa sih. Setengah perjalanan pindah ke rak atas supaya bawahnya ngga gosong dan atasnya cantek kecokelatan.
Oya, untuk takaran @40gr, per 1 resep ini bisa jadi 24 bijik. Mayanlah..
Lalu untuk caterpillar bread, banyak tutorial how-to nya kok. Gugling aja. Toppingnya aku pakai saus tomat, herbs, red cheddar, dan mayonnaise. Udah.




Happy baking!
Ini Indonesia! 
Negeri yang sangat kaya dengan ragam budaya dan kulinari. Mumpung libur, waktunya explore kuliner yang lainnya. Ngga bosan makan nasi Padang melulu di kantor? 

Kali ini aku mau coba yang namanya Gabus Pucung. Lokasinya di daerah Kebayunan - Leuwinanggung - Depok, di bawah jalur toll. Gosipnya warungnya biasa aja, tapi selalu ramai karena di situlah ada Gabus Pucung terenak. Hmmm.. Di sebelah mana pula ini? 



Ternyata jalannya memang masuk kampung! Ohemji.. Lewat sini paling enak pakai mobil yang kecil dan kompak macam Toyota Agya itu. Ukurannya yang ngga terlalu besar, pasti enak kalau lewat jalan sempit begini. Irit pula. Lumayan kan, kalau masih pakai acara nyasar? 

Dan bener deh, warungnya biasa aja. Jauh dari kesan fancy. Di bawah jalur toll pula. Hadeuuh.. Tapi jangan understimate duluuu.. Ayo masuk! Suasana di dalamnya juga biasa banget, tipikal warung di kampung. Menunya macam-macam, tapi yang paling banyak dicari adalah Gabus Pucung itu. Oke, pesan satu. Satu lagi aku pesan Pecak Gurame. Let's see..


Pesanan datang! Komplit dengan lalapan dan sambal ijo.



Dan, inilah dia Gabus Pucung, masakan ikan Gabus yang dimasak dengan kuah berbumbu pucung / keluwek. Mirip rawon, tapi ini pakai ikan, bukan daging. Kuahnya agak lebih kental daripada rawon daging sapi. Dan yang paling istimewa, rasa daging ikan Gabus yang lembut menyerap bumbu dengan sempurna.  Enak? Banget! 


Dan yang ini adalah Pecak Gurame. Ikan Gurame goreng, yang disiram kuah yang kaya rempah. Rasanya pedas, hangat di perut, dan ada sedikit rasa asam dari perasan jeruk limau. Enak!



Ngga salah deh, gosip itu. Masakan di warung ini bener-bener menggugah selera. Dangerously delicious! Ngga rugi lah jauh-jauh ke sini untuk makan siang yang istimewa. 


Harga? Aman. Makan sampe keringetan dan perut kenyang ngga nyampe bayar limapuluh ribu untuk berdua..




Bikin cake yang satu ini selalu deg-degan. Kenapa? Takut rembes. Secara ini pake au bain marie, kans untuk rembes dan basah bawahnya itu selalu ada. Pokoknya pastikan aja, aluminum foil yang dipakai untuk melapisi bebas bocor halus ya..

Berhubung Pak Suami sudah lama rikues "cheesecake yang nyess terus dilapis krim cokelat yang meleleh", mumpung lagi ngga ngapa-ngapain, jadilah proyek hari ini. 


Alhamdulillaah, pada gigitan pertama, ekspresinya itu seperti "whuaaaaaa...!" Syenangnya akuuu.. *joged-joged

Resep JCC aku masih setia pakai resep ini. Pastikan ngocok putih telurnya jangan kebablasan sampai hard peak ya.. Dijamin ambles dengan bahagia hasilnya.
Lalu untuk ganache, pakai resep a la mbak Rina Rinso di sini yang simple aja lah.. Ngga usah dikocok, langsung olesin aja. 

Mau bikin juga? Monggoo..


Happy baking! 


Tetiba tersadar kalau masih punya tepung ubi ungu di dapur. Mari kita berdayakan saja. Berhubung pak suami lebih suka bread daripada cake, ya kita bikin ruti aja yuuk..


Sebenernya sebelumnya udah pernah bikin sih. Di percobaan pertama itu, ketauan lah kalau tepung ini untuk bahan roti efeknya ngga bisa ringan mengembang seperti kalau kita bikin pakai tepung terigu protein tinggi seperti umumnya. Roti dengan tepung ubi ungu ini bertekstur padat, berat, tapi lembut dan moist. Pori-pori roti juga ngga gede, meskipun bisa ngembang waktu proofing.

Yasudah, ini resep yang aku pakai. Bekal mengarang indah 😂

Bahannya:
200 gr tepung ubi ungu
400 gr tepung terigu
8 gr ragi roti
50 gr mentega
100 gr gula pasir
1 butir telur
200 ml air dingin
Choco chips untuk isian

Caranya:
- Aduk rata semua bahan, uleni hingga kalis elastis seperti biasa ya. Air bisa dimasukkan sebagian dulu, kemudian tambahkan sedikit-sedikit hingga kelembabannya pas. Kalau kurang boleh ditambah kok.
- Bulatkan adonan, letakkan di dalam mangkuk besar, tutup dengan serbet bersih lembab. Diamkan (proofing) selama 30 - 60 menit sampai mengembang 2 kali lipat.
- Kempiskan adonan, timbang @ 60 - 80 gr sesuai selera. Pipihkan, isi dengan choco chips, lalu bulatkan. Atur di dalam loyang yang sudah dioles mentega. Proofing lagi selama 10 - 20 menit.
- Panaskan oven 200°C. 
- Panggang selama 15 - 20 menit hingga matang. Setelah matang, keluarkan, oles permukaannya dengan mentega supaya ngga kering atasnya.
- Sajikan.


Ayo sarapan..
Happy baking!
Solusi lapar paling enak 😋 Bikinnya cefat, memuaskan perut pula.. Hehehe..
Resepnya aku dapet dari Umi pas lebaran tahun lalu. Aslinya, Umi pakai minyak dari kulit ayam yg ditumis. Tapi berhubung aku sering lupa bikin stok minyaknya, jadi aku modify aja pakai minyak bawang. Ngga kalah enak kok. Ciyus.


Bahannya:
4 butir bawang putih, cincang kasar
6-7 sdm minyak goreng
1 bungkus mie telor kering
4 sdt kecap asin
1/2 sdt merica bubuk
1/2 sdt lada hitam bubuk
1/2 sdt kaldu ayam bubuk
Sosis, potong sesuai selera
Sayuran hijau, potong sesuai selera
Air untuk merebus
5 sdm minyak goreng

Cara membuatnya:
- Didihkan air, rebus mie hingga setengah matang. Masukkan sayur, rebus hingga sayuran matang. Angkat sayurnya, tiriskan. didihkan mie lagi hingga benar-benar matang. Angkat mie, tiriskan.
- Panaskan minyak goreng, tumis bawang putih hingga harum. Masukkan sosis, aduk rata, lalu tumis hingga matang. 

Cuma untuk kepentingan fotografi, sayuran matang aku taruh di atas tumisan 😸 

- Letakkan mie dan sayuran di dalam mangkuk yang cukup besarnya. Lalu tuang tumisan bawang dan sosis, tambahkan kecap asin, kaldu ayam bubuk, merica, dan lada hitam. Aduk hingga rata. Icipin sendiri ya, kurang lebihnya.
- Sajikan


Gampang banget lah ini kak.. 😸Umi emang jago bikin simple dish enak pake banget kek gini 😘😘
Happy cooking!
Jatah preman hari ini 😁
Alhamdulillaah ada yg order Picnic Roll lagi. Sekalian deh bikin dough untuk cemilan di rumah. Biar sekali jalan mas Jerman bekerja, dough-nya aku pakai dari resep adonan puff pastry andalan. Of course, minus mentega pastry lah ya.. Sama plek.
Lho, emang bisa? Bisa lah. Lhawong adonan dasarnya itu memang adonan bread dough kok. Cuma kalau mau bikin puff pastry, ngulennya ngga perlu sampai kalis elastis, dan di finishing dengan mentega pastry supaya berlapis. 


Pinginnya cinnamon rolls. Tapi pak suami ngga doyan wangi kayu manis. Jadinya aku tabur aja itu bubuk white coffee plus choco chips 😁 Sesat 😁
Jadinya tampilan 11-12 lah. Rasa, 180° sama aslinya. Dasar memang adonan dough-nya rasanya udah enak ya, jadinya emang enak.


So, don't be afraid untuk mengarang bebas. Hihihi..
Happy baking!
Late post pake banget. 
Akibat tepar nyaris 10 hari, kejar-kejaran deadline naskah resep, akhirnya hari ini lunas. Alhamdulillaah.

Setelah 2 tahun lalu bikin aku takjub dengan rikuesnya, tart rainbow bentuk love dengan warna ungu, kali ini minta red velvet yang pink 😁 Ahahaha.. Smart girl. Skip cokelatnya ya nduk..

Frosting masih dengan buttercream spesial a la dapurtetangga, dikasih beberapa hiasan dari fondant, dan dikerjakan dalam kondisi badan meriang. And this is it.





Happy birthday kakak Lunetta!
Udah SD, ya.. Makin jempol, makin pintar, makin sayang Ayah Bunda Adek.. 😘😘😘